#5 Your Parents
Aaaa gak tau. Mereka sangat berjasa besar bagiku. Meskipun aku sebenarnya gak mau hidup di dunia ini karena berbagai alasan (andai gak lari duluan ya waktu itu, kalah aja).
Kalau menyinggung tentang orang tua, aku gampang sekali menangis. Apalagi di umurku yang sudah 23 tahun ini, aku belum bisa berbuat apapun untuk orang tuaku. Kerja pun masih belum dapat ðŸ˜Menambah beban orang tua dengan 'aku gak tau mau jadi apa dan bidang apa yang nantinya aku tekuni setelah aku lulus kuliah'.
Aku sangat berhutang nilai yang amat besar pada ayahku karena aku tak bisa lolos tes kerja kala itu. Padahal aku harapannya. Dan aku sudah mengerahkan kerja otakku untuk menyingkirkan 950 peserta. Namun, kesehatan dan hasil cek darah tak pernah bohong. Aku tak sebugar yang lainnya. Padahal ayahku sudah mengeluarkan uang tak sedikit untuk mengantarku ke tempat seleksi. Jauh, memakan waktu, dan harus menghabiskan jatah cutinya dalam setahun. Ah kalau mengingatnya, aku sedih. Bukan sedih karena tak lolos tes, namun sangat sedih karena aku menghancurkan harapan ayah terhadapku. Sedih sekali. Bahkan ketika aku menulis ini, aku menitikkan air mata. Dasar cengeng. Tak bisa berdamai dengan masa lalu.
Saat aku berulang tahun kemarin, aku pun mengirim pesan singkat pada ibuku dengan mengucapkan terima kasih atas segala usaha dan jerih payahnya untuk membesarkanku meskipun tak sesuai dengan ekspektasinya. Ah.. serius. Aku mengetiknya seperti itu. Tapi ibuk malah meminta maaf karena lupa akan ulang tahunku.
Aku harap, di tahun ini, aku tak lagi merengek pada kehidupanku yang sudah pasti bakal kejam. Aku harap, di tahun ini, orang tuaku tetap sehat sehingga aku bisa membalas kebaikan mereka dengan secuil usahaku selama ini. Meskipun, kasih sayang orang tua tak akan pernah terbalas sama sekali.
Ayah, ibuk, terima kasih. Maafkan aku yang masih jadi beban dan belum berani mengepakkan sayapku sendiri.
Comments
Post a Comment