Eid Mubarak 1437 H
Hello, its been awhile (again)
There's something that makes me feel like we lose our respect to others nowadays.
Contohnya seperti peristiwa H-1 Idul Fitri, terjadi pengeboman di sekitar Masjidil Haram, Jeddah, dan saya lupa satunya lagi dimana. Seriously? Ini membuat saya berpikiran bahwa, American light up their 4th of July fireworks, but in muslim's place. I mean, they're so awful. ((sorry))
Masih berpikiran bahwa teroris itu muslim? Maybe terrorist has religion, but no for terrorism.
Tentang 'lose our respect' ,
Sayangnya, tak usah jauh-jauh dan sulit lah memberikan contoh kalau orang jaman sekarang itu 'agak' kurang peduli dengan lingkungan sekitar.
Seperti peristiwa yang saya alami baru saja, selesai sholat ied di depan rumah.
Tapi, jujur saya sendiri juga lose respect, yang harusnya keliling di sekitar rumah, tapi malah sibuk ngetik di sini. Ya udah lah ya, lagian di rumah saya lagi ada open house. Ngeles dikit.
Oke, jadi begini.
Gimana pendapat kalian tentang orang tua, i mean yang memang sudah sepuh, dan penyandang disabilitas? Jujur sekali, saya hampir menangis pagi ini. Serius, jangan disangka alay duluan.
Tentang orang tua, itu adalah tetangga saya sebelah rumah, beliau bisa di panggil nenek,karena dia perempuan. Hehe. Jadi begini, beliau terlambat mengikuti sholat idul fitri, dia baru saja datang saat khotbah dimulai. Saya seketika berpikir, kenapa ditinggal? Padahal di tempat tinggal nenek itu, banyak sanak saudara. Ya begitulah. Atau mungkin beliau mengalah, karena harus menyelesaikan beberapa tugasnya sebelum pergi bersiap-siap untuk sholat idul fitri. I cant clearly describe how her daily life because some of privacy, maybe? afraid that her grandchild found this blog. Yakali blog saya terkenal padahal enggak. Ya intinya saya merasa kasihan, karena banyak sekali orang-orang memandang dengan tatapan 'aneh'. Well, who knows?
Tentang penyandang disabilitas, saya juga punya tetangga seperti itu. He is 25+ years old, maybe? Yang saya tahu, dia berprofesi sebagai guru, mungkin di sekolah luar biasa. Dia agak kesulitan berjalan, tangan tertekuk ke dalam. Can you imagine? kalo gak bisa yaudah gapapa gak maksa. Jadi ceritanya, dia terlambat sholat idul fitri. Dengan gaya berjalannya yang jauh berbeda dari kita, dia berjalan menuju shaf laki-laki paling belakang. Dengan posisi saya berada di shaf perempuan paling depan, saya tahu apa yang terjadi. Dia terlihat kesulitan untuk melewati meteran pdam, yang lokasinya di samping pas shaf laki-laki paling belakang. Dia seperti menoleh ke laki-laki yang lain seperti berharap ada yang membantu tapi mungkin mereka semua sudah terlalu sibuk memandang aneh dan/ atau sibuk mendengarkan khotbah yang saat itu sedang berlangsung. Well, kenapa saya gak bantu? I just cant, there's wide spaces, dan aku takut membatalkan wudhunya. Saya saat itu juga langsung berpikir, pasti mas ini gak bisa lompat, karena berjalan saja kesusahan sekali. Dan ternyata, benar. Dia tersandung, tapi dia tetap tangguh seakan-akan di pandang seperti 'itu' oleh lainnya sudah biasa. Saya heran, kenapa orang-orang sama sekali tidak ada yang membantu? Saya merasa kasihan dengan mas itu, dan menyesalkan diri sendiri karena gak bisa bantu dia. Dengan santainya orang-orang cuma memandang mas itu, dan saya dengar dari shaf belakang, ada ibu-ibu berbicara "aduh mesakne lo". Iya, saya yakin orang-orang yang lain akan mengatakan seperti itu dan cuma bisa memandang dia.
There's one thing, that annoyed me, sampao sekarang. Yaitu, bahwa rasa iba/ respect/ kasihan di jaman sekarang hanyalah sebatas terucap tanpa adanya tindakan bagi beberapa orang. Di lingkungan kita.
Dan, bahwa rasa iba/ respect/ kasihan di jaman sekarang hanyalah sebatas hashtag tanpa di iringi doa-doa yang terucap saat menyembah Yang Kuasa, bagi beberapa orang. Di dunia maya.
Kalian seakan-akan bangga mengatakan #PrayforParis untuk mereka, yang saat itu terkena terror bom. Namun lihat saat umat muslim yang terkena terror bom, di sekitar tempat suci kita malah? Sekalipun membuat hashtag, tidak merasa bahwa suatu saat akan ada ancaman yang lebih besar disana yang akan menghancurkan Masjidil Haram, mungkin? Sekali-sekali lah rubah kebiasaan lama dengan menunjukkan kita respect agar di lihat orang itu dengan setiap kali kita mengingat suatu peristiwa yang mencengangkan, kirimkanlah Al-Fatihah, agar senantiasa setiap kejadian, akan mendapatkan keberkahan dari Allah.
Well thats enough, but I still sad, because this tragedy.
Sorry for inconvenient things I wrote. This is what I think, and may be different with yours.
Minal Aidzin Wal Faidzin, Taqaballahu Minna Wa Minkum, Taqabal Ya Karim.
Wassalamualaikum Wr. Wb
There's something that makes me feel like we lose our respect to others nowadays.
Contohnya seperti peristiwa H-1 Idul Fitri, terjadi pengeboman di sekitar Masjidil Haram, Jeddah, dan saya lupa satunya lagi dimana. Seriously? Ini membuat saya berpikiran bahwa, American light up their 4th of July fireworks, but in muslim's place. I mean, they're so awful. ((sorry))
Masih berpikiran bahwa teroris itu muslim? Maybe terrorist has religion, but no for terrorism.
Tentang 'lose our respect' ,
Sayangnya, tak usah jauh-jauh dan sulit lah memberikan contoh kalau orang jaman sekarang itu 'agak' kurang peduli dengan lingkungan sekitar.
Seperti peristiwa yang saya alami baru saja, selesai sholat ied di depan rumah.
Tapi, jujur saya sendiri juga lose respect, yang harusnya keliling di sekitar rumah, tapi malah sibuk ngetik di sini. Ya udah lah ya, lagian di rumah saya lagi ada open house. Ngeles dikit.
Oke, jadi begini.
Gimana pendapat kalian tentang orang tua, i mean yang memang sudah sepuh, dan penyandang disabilitas? Jujur sekali, saya hampir menangis pagi ini. Serius, jangan disangka alay duluan.
Tentang orang tua, itu adalah tetangga saya sebelah rumah, beliau bisa di panggil nenek,
Tentang penyandang disabilitas, saya juga punya tetangga seperti itu. He is 25+ years old, maybe? Yang saya tahu, dia berprofesi sebagai guru, mungkin di sekolah luar biasa. Dia agak kesulitan berjalan, tangan tertekuk ke dalam. Can you imagine? kalo gak bisa yaudah gapapa gak maksa. Jadi ceritanya, dia terlambat sholat idul fitri. Dengan gaya berjalannya yang jauh berbeda dari kita, dia berjalan menuju shaf laki-laki paling belakang. Dengan posisi saya berada di shaf perempuan paling depan, saya tahu apa yang terjadi. Dia terlihat kesulitan untuk melewati meteran pdam, yang lokasinya di samping pas shaf laki-laki paling belakang. Dia seperti menoleh ke laki-laki yang lain seperti berharap ada yang membantu tapi mungkin mereka semua sudah terlalu sibuk memandang aneh dan/ atau sibuk mendengarkan khotbah yang saat itu sedang berlangsung. Well, kenapa saya gak bantu? I just cant, there's wide spaces, dan aku takut membatalkan wudhunya. Saya saat itu juga langsung berpikir, pasti mas ini gak bisa lompat, karena berjalan saja kesusahan sekali. Dan ternyata, benar. Dia tersandung, tapi dia tetap tangguh seakan-akan di pandang seperti 'itu' oleh lainnya sudah biasa. Saya heran, kenapa orang-orang sama sekali tidak ada yang membantu? Saya merasa kasihan dengan mas itu, dan menyesalkan diri sendiri karena gak bisa bantu dia. Dengan santainya orang-orang cuma memandang mas itu, dan saya dengar dari shaf belakang, ada ibu-ibu berbicara "aduh mesakne lo". Iya, saya yakin orang-orang yang lain akan mengatakan seperti itu dan cuma bisa memandang dia.
There's one thing, that annoyed me, sampao sekarang. Yaitu, bahwa rasa iba/ respect/ kasihan di jaman sekarang hanyalah sebatas terucap tanpa adanya tindakan bagi beberapa orang. Di lingkungan kita.
Dan, bahwa rasa iba/ respect/ kasihan di jaman sekarang hanyalah sebatas hashtag tanpa di iringi doa-doa yang terucap saat menyembah Yang Kuasa, bagi beberapa orang. Di dunia maya.
Kalian seakan-akan bangga mengatakan #PrayforParis untuk mereka, yang saat itu terkena terror bom. Namun lihat saat umat muslim yang terkena terror bom, di sekitar tempat suci kita malah? Sekalipun membuat hashtag, tidak merasa bahwa suatu saat akan ada ancaman yang lebih besar disana yang akan menghancurkan Masjidil Haram, mungkin? Sekali-sekali lah rubah kebiasaan lama dengan menunjukkan kita respect agar di lihat orang itu dengan setiap kali kita mengingat suatu peristiwa yang mencengangkan, kirimkanlah Al-Fatihah, agar senantiasa setiap kejadian, akan mendapatkan keberkahan dari Allah.
Well thats enough, but I still sad, because this tragedy.
Sorry for inconvenient things I wrote. This is what I think, and may be different with yours.
Minal Aidzin Wal Faidzin, Taqaballahu Minna Wa Minkum, Taqabal Ya Karim.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Comments
Post a Comment